Lebaran di Tengah Ancaman Bahaya Kelaparan

Badan Pangan dan Agrikultur PBB memperkirakan sebanyak 795 juta orang dari 7,3 triliun jumlah penduduk dunia, atau tiap satu dari sembilan orang, menderita kekurangan gizi kronis sepanjang tahun 2014 – 2016. Hampir seluruh orang yang kelaparan, atau sekitar 780 juta jiwa, tinggal di negara-negara berkembang. (www.worldhunger.org)

Syukur alhamdulillah, bila hari ini, di malam satu Syawal 1438 H, kita semua sama-sama masih dapat menikmati berlimpahnya makanan jelang perayaan lebaran Idul Fitri 1438 H besok pagi. Setelah menunaikan ibadah shaum di bulan Ramadhan, penting bagi kita untuk merenungi ancaman bahaya kelaparan yang sudah di depan mata. Untuk itulah, mari kita rayakan lebaran tahun ini dengan penuh rasa syukur, seraya memohon ampun kepada-Nya agar dijauhkan dari segala musibah, terutama bencana kelaparan.

Dalam kesempatan ini, izinkan saya memohon dibukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya, atas kesalahan dan khilaf saya dan keluarga selama ini. Semoga Alloh SWT memberi kekuatan kepada kita agar tetap menyatukan silaturahmi di antara kita.
Wassalam,

Bahrul Haq A.

Bukan Pungguk Merindukan Bulan

Pagi ini, mentari bulat sempurna berwarna jingga. Dari Situ Pamulang, kusaksikan seakan ia bergelayut persis di langit Pondok Cabe. Seolah aku dapat meraihnya hanya dengan sebilah galah. Nyatanya, ia jauh di angkasa sana tak terjangkau olehku. Juga terlarang bagiku menatapnya telanjang mata.

Aku teringat dirimu di masa lampau. Selalu memesona di tiap paginya. Warnamu putih, lembut, dan hangat. Kau dekat, sangat dekat, seakan aku dapat merengkuhmu. Tapi kau hanya imaji bagiku. Juga ciut nyaliku menatapmu berlama-lama.

Picture originally taken by Toshihiko Yamada, “Brown Hawk Owl and Full Moon”

Aku bukan pungguk merindukan bulan. Hanya diri merindukan mentari. Sosokmu utopis, juga harapku.

Pondok Benda, 16/05/17 20.20 WIB

Bila Nanti Ahok Bebas…

Seperti sama-sama diketahui, media konvensional maupun media sosial tak pernah sepi pemberitaan tentang sosok seorang Basuki TP, alias Ahok.

Bahkan kini, setelah Ahok divonis penjara selama dua tahun, sosoknya masih fenomenal. Padahal, tak lama berselang ia juga terjungkal oleh rivalnya Anies RB dalam pilkada DKI yang lalu.

Setelah melihat fenomena akhir-akhir ini, saya jadi membayangkan kira-kira skenario apa yang bisa dipilih sdr. Ahok bila nanti ia bebas dari jerat hukum atau hukumannya. Berikut beberapa pilihannya,

  1. Ahok membuat partai politik baru, bisa dinamai partai BTP yang sesuai dengan jargon dia selama ini,
  2. Ahok kembali mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI pada perhelatan pilkada yang akan datang, sekalian memuaskan para pendukung setianya yang masih penasaran dengan pilkada lalu, atau
  3. Ahok bisa buka bisnis baru, misalnya jasa pembuatan karangan bunga, produksi balon, atau menjadi distributor lilin.

Sebenarnya, masih banyak alternatif skenario lainnya yang bisa ditempuh sdr. Ahok nantinya. Terpulang kepada Ahok sendiri, dan takdir yang digariskan oleh Yang Maha Kuasa.

Pondok Benda, 15/05/17 13.22 WIB

“Jeritan H(a)TI”

“Tuduhlah aku sepuas hatimu, atau bila kau perlu bunuhlah aku”


Begitulah penggalan syair lagu dangdut berjudul “Jeritan Hati” yang pernah dibawakan oleh artis Mirnawati. Saya membayangkan, syair ini bagai mewakili kegelisahan Hizbut Tahrir di Indonesia dan para pendukungnya. Setelah negara, yang diwakili oleh Menkopolkam Wiranto, menyatakan dalam pidatonya bahwa organisasi Hizbut Tahrir dibubarkan di Indonesia.

Pidato Wiranto segera memicu kontroversi, baik dari pendukung pemerintah maupun lawan politiknya. Namun terutama kontroversi ini terasa lebih keras bagi para penggerak dan pendukung Hizbut Tahrir.

Maklum saja, selama ini meski dikenal selalu mengusung agenda perubahan radikal di Indonesia dengan model Khilafah sebagai solusinya, masih ada di antara aktifis maupun pendukungnya yang berstatus Pegawai Negeri — notabene digaji oleh negara.

Hizbut Tahrir juga selama ini bebas berkembang biak di kampus, tanpa ada pelarangan dari civitas akademika kampus, negeri maupun swasta.

Hizbut Tahrir bahkan bebas menyebarkan buletin yang tak terhitung berapa kalinya menampar terang-terangan wajah pemerintah.

Hingga kini, Hizbut Tahrir telah tersebar hingga pelosok desa. Ini bisa terlihat dari sejumlah poster mereka yang ditempel di sudut-sudut kampung. Yang mana isinya kurang lebih tentang Khilafah sebagai solusi sistemik atas berbagai permasalahan orang Indonesia.

Saya mencoba memahami pidato Wiranto sebagai pernyataan sikap pemerintah. Layaknya sebuah pernyataan sikap, bobotnya belumlah terasa bila tak diikuti instrumen legal formal di belakangnya. Kita tak tahu seberapa cepat atau seberapa lambat pemerintah akan bergerak menindaklanjuti pernyataan sikap itu.

Tapi, yang sungguh membuat saya penasaran ialah mengapa baru sekarang Hizbut Tahrir Indonesia dibubarkan?

Pemerintah pasti telah berhitung hingga berani mengeluarkan pernyataan seperti itu. Setidaknya mungkin pemerintah telah mendapatkan jaminan dari ormas Islam besar lainnya bahwa dengan pernyataan itu mereka takkan kehilangan dukungan sebagian besar umat Islam. Terutama dukungan dari kaum Nahdliyyin yang selama ini dikenal melakukan perlawanan secara kultural terhadap gerakan Hizbut Tahrir, dengan mengkampanyekan slogan “NKRI harga mati”.

Mungkin keputusan untuk melarang Hizbut Tahrir keluar setelah melihat betapa massif gerakan Islam akhir-akhir ini, terutama dalam persoalan hukum yang menimpa gubernur non-aktif terpidana kasus penodaan agama, Basuki TP. Hingga sempat juga berujung dengan desas-desus adanya tuduhan makar yang diduga dilakukan sejumlah orang. Situasi ini tentu saja takkan dibiarkan terus memburuk oleh pemerintahan Presiden Joko W.

Kita ingat, Hizbut Tahrir adalah salah satu kelompok terorganisir yang kerap mendengungkan perubahan sistem secara radikal di Indonesia. Meski, gerakan mereka sejauh ini lebih menyasar pada perang pemikiran. Sehingga, bila skenario terburuk terjadi di masa pemerintahan presiden saat ini terjadi, berupa kudeta atau revolusi, maka kelompok ini yang memiliki alternatif solusi paling sistemik.

Dengan membubarkan organisasi ini, pemerintah bisa jadi telah selangkah lebih maju dalam menghadang gerakan Islam.

Hanya saja, melalui posting ini saya ingin mengingatkan bahwa Hizbut Tahrir sebagi organisasi dapat saja dibubarkan oleh pemerintah sesuai kewenangannya. Akan tetapi, para pengikutnya tetaplah harus dilindungi hak hidupnya, berikut hak-hak sipil mereka sebagai warga negara.

Hizbut Tahrir sering menyebut diri mereka sebagai partai politik, namun yang berjuang di luar parlemen. Sederhananya, gerakan mereka adalah gerakan politik. Agendanya mungkin bisa disebut radikal karena mengidealkan perubahan sistem. Sampai di sini saja, sebenarnya Hizbut Tahrir belum melanggar prinsip demokrasi apapun. Tapi, anggaplah pemerintah memilih untuk mengamankan ideologi negara dan konstitusinya, tetap saja negara berkewajiban melindungi segenap tumpah darah negara Indonesia, termasuk para anggota dan pendukung Hizbut Tahrir Indonesia.

Malangbong, 11/05/217 18.51 WIB

Saya dan Warteg

Di siang yang terik ini perut saya terasa keroncongan. Saya putuskan untuk rehat sejenak dari rutinitas ngojek saya, lalu mampir di sebuah warteg untuk santap siang.

Saya ingat kunjungan warteg pertama saya terjadi tak lama setelah saya sempat tinggal di sekretariat organisasi mahasiswa kampus APP. Saya tinggal di situ bukan sebagai mahasiswa kampus itu, melainkan sebagai lulusan SMA yang mengikuti kegiatan Bimbingan Intensif pra-SPMB di kawasan Depok.

Singkat cerita, saya pun tinggal di bangunan kecil yang jadi base camp aktivis di kampus itu.

Saya yang sebelumnya tak pernah tinggal di luar kota kelahiran saya, di timur Jawa Barat ini harus belajar beradaptasi di lingkungan baru itu. Kebingungan dengan suasana lingkungan baru bercampur dengan kerinduan terhadap suasana dan orang-orang di kampung halaman.

Salah satu kesempatan saya untuk mencairkan perasaan itu ialah saat makan. Pada awalnya, saya hanya makan di kedai mie rebus milik orang asal Kuningan, Jawa Barat. Saya cukup merasa nyaman dengan kedai ini, apalagi saya juga bisa sesekali mengajak bicara pemiliknya dengan basa sunda.

Sebelum akhirnya saya mencoba makan di sebuah warteg. Saya ingat, saya harus berjalan kaki sekian ratus meter untuk sampai di warteg terdekat. Saya mendapati suasana yang cukup berbeda. Warteg selalu ramai pengunjung, dengan berbagai latar belakang. Pilihan menu juga beragam. Semua duduk berdampingan, lalu sesekali berbincang satu sama lain. Suasana di warteg selalu terasa hangat.

Sekarang sudah tak terhitung berapa kali saya makan di warteg. Apalagi pada masa kuliah dulu. Meski kini warteg harus bersaing ketat dengan kompetitornya yang semakin bervariasi, eksistensi mereka tetap masih terjaga. Mungkin karena suasana merakyat dan harganya yang terjangkau.

Pondok Benda, 07/05/17 12.45 WIB

Roti Bakar dan Teh Tawar Pagi Ini

Bukan roti bakar mewah, juga bukan teh tawar premium. Hanya dua lembar roti tawar, diolesi susu kental coklat, lalu dipanggang di penggorengan; juga teh celup pasaran sisa satu di kotaknya. Menu sarapan pagi ini terasa nikmat di mulut, berkat tambahan menu cinta dari istri saya.

Saya tak melebih-lebihkan, juga tak ingin mengkurang-kurangkan. Tapi dengan cara seperti itu pun saya telah merasa dicintai olehnya yang kini tengah berbadan dua.

Setelah lebih dari satu dasawarsa mengenalnya, ia yang paling gigih menyegarkan ingatan saya. Terutama sekali ingatan tentang janji-janji saya padanya. Janji yang sebagian besarnya masih belum dapat saya penuhi. Tak heran bila sesekali ia merasa lelah menghadapi saya.

Saya hanya bisa bersyukur dengan keberadaan dan rasa cintanya yang masih belum padam.

Pondok Benda, 07/05/17 08.42 WIB

Si Sulung Menyalip Ayahnya

Hari ini Akhtar meraih trofi pertamanya, sebagai peserta lomba peragaan busana dalam gelaran Peringatan Hari Kartini di Kampus Pendidikan Dua Mei. Ia menyabet juara kedua dalam kategori peserta tingkat Taman Kanak-kanak.

Melihat begitu pesatnya perkembangan anak sulung saya ini, saya kerap kali bercermin dengan pengalaman masa kecil saya sendiri dahulu.

Saya jadi ingat, bahwa rasa-rasanya saya tidaklah secepat anak saya dalam perkembangan pada masa kanak-kanak silam.

Trofi pertama yang saya raih, misalnya, baru diperoleh di masa saya bersekolah dasar di Madrasah Ibtidaiyah. Itu pun bukan trofi pribadi, melainkan milik sekolah, karena berkesempatan mewakili lembaga untuk berlaga di ajang lomba cerdas cermat tingkat Kota Administratif. Bila tak salah, saya bersama dua rekan (yang mana saya lupa siapa mereka) membantu sekolah merebut trofi juara pertama.

Atau hal lainnya yang lebih praktis dan berhubungan langsung dengan perkembangan motorik kasar, dalam hal ini menaiki sepeda roda dua. Anak sulung saya telah mulai menggowes sepeda roda dua di usia empat tahun lebih sedikit. Sementara, saya terbilang jauh lebih lambat, di mana sepeda roda dua yang dibelikan ayahanda dulu baru dapat saya kuasai pada usia sekolah kelas enam Madrasah Ibtidaiyah.

Sederhananya, anak sulung saya telah banyak menyalip saya dalam hal perkembangan di masa kanak-kanak. Saya cukup beruntung karena saya menua lebih dahulu dibandingkan dia.

Tapi, saya selalu berusaha jujur padanya. Saya katakan bahwa ia telah jauh lebih baik dibandingkan diri saya saat seusianya. Saya juga katakan bahwa saya ingin ia yakin bahwa dirinya bisa tumbuh lebih baik lagi. Dari yang saya perhatikan, saat ia yakin dengan kemampuannya sendiri, maka ia berkembang jauh lebih baik dan lebih cepat dari yang saya mampu bayangkan.

Bilakah nasibnya di masa depan juga akan jauh lebih baik dibandingkan ayahnya? Insya Allah, amin.

Pondok Benda, 27/04/17 22.31 WIB