Setelah Lama….

Pagi tadi baca-baca laporan BPS Kota Banjar. Saya baca sedikit saja sih, tak sempat mendalam. Ada hal yang menarik bagi saya dari data itu. Kota kelahiran saya itu ternyata jumlah penduduknya hanya sekitar 200 ribu jiwa (lebih sedikit). Sebenarnya tidak terlalu mengherankan, mengingat kota ini hanya terdiri dari empat kecamatan; Banjar, Langensari, Pataruman dan Purwaharja. Tapi tetap saja, angka 200 ribu jiwa itu cukup menarik bagi saya.

Hal menarik yang pertama, dari total penduduk 200 ribu jiwa ternyata kepadatan tertinggi ada di pusat kota, yaitu Kecamatan Banjar. Kecamatan Banjar yang luasnya hanya lebih kurang 26 kilometer persegi dihuni oleh sekitar 58 ribu jiwa. Ilustrasinya, bila dirata-ratakan tiap kilometer persegi di kecamatan ini dihuni oleh 2.200-an jiwa penduduk.

Hal yang kedua, saya bukan sok tahu, tapi rasa-rasanya dengan jumlah penduduk hanya 200 ribu-an jiwa saja, kota ini perlu lebih terbuka dengan “dunia luar”. Untuk membangun daerah yang sempit dan jumlah penduduk yang juga sedikit ini tidak cukup hanya dibangun oleh penduduk lokalnya. Pemerintah daerah perlu membuka akses seluas-luasnya untuk keterlibatan warga daerah sekitar untuk membangun Kota Banjar. Misal, industri padat karya di daerah perlu dirangsang untuk tumbuh, dengan ditopang oleh sumber daya manusia dari warga daerah sekitar. Sementara itu, sumber daya manusia para penduduk lokal dapat dimaksimalkan dengan membuka akses pendidikan secara merata dan setinggi-tingginya. Penduduk Kota Banjar boleh saja hanya sedikit, tapi mereka jelas harus pintar, beradab dan berpendidikan tinggi.

Yang ketiga, kota kecil ini sangat mampu untuk menyerap partisipasi masyarakat sebesar-besarnya dalam pembangunannya. Saya rasa tak akan sulit untuk mengumpulkan puluhan ribu orang setiap bulannya untuk menyerap aspirasi dan mendengarkan permasalahan sehari-hari mereka. Setelah itu, pemerintah dapat meminta komitmen seluruh warganya untuk bahu membahu membangun kotanya.

Inilah kira-kira gambaran yang terlintas di benak saya setelah membaca laporan BPS tadi. Yah, hanya sekedar berbagi keresahan saja sebenarnya. Apalagi rasanya kok sudah lama sekali saya belum posting di blog ini. Mohon kiranya dimaafkan. Hehehe
Pancoran Mas, 16/11/17 11.48 WIB

Iklan

My September Wish (Part 2: End)

Ada banyak harapan yang saya rencanakan agar terwujud sejak memasuki usia tiga puluh dua ini. Yang pertama tentu saja agar ibunda selalu dalam keadaan sehat dan dalam perlindungan Tuhan.

Dari sekian banyak orang yang sempat saya kecewakan, beliaulah yang kerap harus menelan ludah melihat kelakuan anak sulungnya ini. Bahkan, tak jarang air matanya sampai membanjiri wajahnya gara-gara ucapan dan tingkah laku saya. Oleh karenanya, saya sungguh berharap ibunda yang akrab saya panggil Mom agar tetap sehat wal afiat, dan semoga saya masih membuat guratan senyum dari wajahnya berkembang kembali.

Berikutnya saya berharap agar pada persalinan yang kedua nanti, istri saya diberikan kekuatan sebelum dan sesudah persalinan. Juga jabang bayi dalam rahim agar dicukupkan kesehatan dan kekuatannya supaya terlahir ke dunia dalam keadaan sehat sempurna.

Yang ketiga agar anak sulung saya tumbuh semakin cerdas dan mandiri. Juga supaya ia sayang kepada adiknya kelak bila sudah terlahir ke alam dunia. Mendidik dan membesarkan keduanya menjadi tugas yang takkan mudah bagi saya, sejak lahir hingga mereka dewasa nanti. Saya sungguh berharap agar mereka tak menemukan saya dalam keadaan marah barang sekalipun kepada mereka hingga saya ringan tangan kepada keduanya. Saya tak mau mereka merasakan ketakutan dan kepedihan yang pernah saya alami dahulu.

Bagaimana dengan harapan dalam karir? Saya hanya ingin menikmati semua prosesnya. Entah itu manis ataupun pahit. Karena bagi saya itu semua menjadi pengalaman berharga, sejauh saya menjalaninya dengan tetap memelihara kehormatan diri. Harta dan jabatan hanyalah pemanis saja. Yang terpenting, manisnya harta dan jabatan jangan sampai melenakan hingga merugikan diri sendiri, keluarga dan orang lain.

Satu atau dua tahun mendatang akan menjadi masa transisi yang menentukan dalam perjalanan hidup saya. Semoga saya bisa melaluinya dengan penuh kesabaran dan dukungan dari keluarga.

Pondok Aren, 29/9/17 09.35 WIB

My September Wish (Part 1)

Tahun-tahun belakangan ini, bulan September terasa lebih bersejarah, terutama dalam hal karir. Di seputaran bulan itu, ada semacam keputusan yang berulang saya ambil. Keputusan untuk berganti tempat kerja.

Kalau tak salah, tanggal 1 September 2013 saya putuskan untuk mutasi dari BTPN KCP Banjar ke KCP Ciputat. Padahal, saya bergabung dengan KCP Banjar sudah sejak 20 Januari 2011. Suasana dan rekan-rekan kerja juga sudah seperti keluarga sendiri. Tapi, keputusan itu toh akhirnya saya ambil demi bersatu dengan istri dan si Sulung.

Sejak September 2013, Ciputat juga menjadi rumah kedua saya. Tim BTPN KCP Ciputat yang ceria pun menjadi keluarga berikutnya bagi saya. Meski saya tak pernah menduganya, nyatanya saya berhasil bertahan di KCP Ciputat hingga kantor bersejarah itu ditutup yang kurang lebih bersamaan waktunya dengan keputusan saya mengakhiri karir di BTPN.

Saya rasa kalau tak salah, awal Oktober 2016 menjadi akhir kebersamaan Tim KCP Ciputat, sekaligus akhir karir saya di BTPN. Keputusan itu pun sebetulnya saya ambil pada bulan September tahun itu.

Lalu, kini keputusan serupa akan saya ambil kembali di tempat kerja terakhir ini, Mega Syariah KCP Bintaro. Setelah tertunda sebulan atas saran sejumlah pihak, saya kini tinggal menghitung hari dalam kebersamaan dengan tim KCP Bintaro. Empat bulan tentu saja bukan waktu yang lama untuk mengenal perusahaan dan tim ini. Tapi, pilihan toh sudah saya ambil, dan harus berakhir di akhir September ini.

Sekarang, saatnya saya menatap masa depan. Bila tak ada ralat, saya akan bergabung dengan KPU Depok. Hanya bantu-bantu sebenarnya, bahkan kabarnya salary pun jauh lebih rendah dari yang saat ini saya terima dari Mega Syariah. Tapi, di situ saya bisa mengambil kans peluang untuk melanjutkan menambah pengalaman dalam bidang politik. Toh, latar belakang pendidikan dan minat natural saya juga dalam bidang politik. Banyak cara yang lebih canggih sebetulnya bila motivasinya hanya ingin berpolitik. Namun saya memilih jalur saya sendiri, yang jujur saja akan sangat rumit sepertinya.

Nah, bulan September juga menjadi bulan yang spesial. Karena hari ini saya merayakan Hari Ibu milik ibu saya sendiri. 32 tahun yang lalu, pertama kalinya ia menyandang status sebagai ibu, setelah melahirkan anak sulungnya (saya).

To be continued…

Pondok Aren, 27/09/17 09.35 WIB

Takkan Lari Toilet Dikejar

Kegiatan paling menyita tenaga pada sesi pulang kampung kali ini ialah berlari. Padahal, tadinya tak pernah ada rencana olahraga lari. Memang bukan dalam rangka olahraga juga sih.

Saya coba urutkan dari kegiatan lari yang terkini. Ceritanya, kami sekeluarga sudah cukup tenang berada dalam bis AKAP dari Tasikmalaya menuju Lebak Bulus. Begitu keluar dari kawasan Terminal Tipe A Kota Tasikmalaya yang kondisinya setiap tahun hampir selalu sepi bak TPU, kendaraan bis yang kami tumpangi langsung berhadapan dengan antrian panjang kendaraan yang terkena macet.

Kemacetan menjadi penyakit — yang kian lama kian parah — yang harus kami derita setiap pulang-pergi dari dan menuju Banjar. Kondisi ini benar-benar terasa aneh, sebab dengan penambahan ruas jalur tol di mana-mana terbukti tak mampu mengatasi, atau minimal mengurangi, titik kemacetan. Alih-alih demikian, rasanya malah semakin bertambah.

Dahulu, perjalanan Jakarta-Bandung hanya makan waktu dua jam. Sementara itu, Jakarta-Banjar biasanya hanya butuh waktu tujuh jam perjalanan. Sekarang, waktu tempuh seperti ini tak pernah saya alami lagi.

Tak berapa lama sejak keluar dari kawasan terminal tadi, di tengah kemacetan ternyata sekonyong-konyong si Sulung bilang kalau ia ingin BAB. Inilah yang sudah kami kuatirkan sejak sebelum berangkat dari rumah neneknya di Banjar. Padahal, tak kurang begitu seringnya kami ingatkan utk BAB terlebih dahulu sebelum lakukan perjalanan pulang menuju Jakarta.

Nasi sudah menjadi bubur. Kita sedang berada di tengah kemacetan, dan si Sulung sudah memohon-mohon agar bisa mendapat waktu untuk BAB. Maka, saya pun mengalah demi kenyamanan dan kesehatannya. Segera saya ajak ia turun dari bis, lalu secepatnya saya segera susuri jalanan itu searah dengan arah bis menuju kawasan Ciawi.

Setelah setengah berlari, akhirnya sungguh beruntung karena sekitar 300 meter dari tempat kami turun tadi ternyata terdapat pom bensin. Segera saya cepat-cepat membawanya menuju toilet umum. Saya sadar bahwa saya tak punya banyak waktu.

Sesampainya di toilet, anak sulung saya sempat meminta maaf karena sudah merepotkan ayahnya. Anak yang baik. Saya pun luluh dan memberikan ia waktu agar leluasa menunaikan hajatnya yang mungkin sempat tertunda sedari tadi. Tak berapa lama hajatnya pun selesai. Alhamdulillah, misi terselesaikan.

Sejurus kemudian, saya pun harus segera menyelesaikan misi berikutnya, yaitu segera membawa kembali anak saya menuju bis AKAP tempatnya bundanya setengah cemas menunggu kami.

Keluar dari toilet umum, saya langsung edarkan pandangan saya mencari bis itu. Alhamdulillah, beruntung ternyata bis berwarna putih merah itu terlihat tepat di depan pom bensin tempat si sulung BAB. Tanpa menunggu aba-aba, saya segera gendong si sulung dan langsung berlari penuh agar segera mencapai keberadaan bis itu.

Ya, itulah kegiatan lari darurat yang saya lakoni sekian menit yang lalu. Kejadian lari lainnya terjadi sehari yang lalu.

Saya, anak sulung saya, dan sahabat saya berfoto di salah satu spot foto kawasan Situ Leutik, yang terletak di Desa Cibeureum, Kota Banjar, pada Sabtu (2/9)

Pagi hari sekitar jam 8 saya sempat mengajak istri dan adik-adik saya untuk berangkat menuju Tasikmalaya. Tadinya, kita berencana untuk menonton film nasional Warkop DKI di bioskop 21. Bioskop terdekat dari kota Banjar terletak di Kota Tasikmalaya. Jaraknya cukup jauh sebenarnya, akan tetapi umumnya tak mengurangi minat warga Banjar untuk menonton film kesayangan mereka di sana.
Berhubung kendaraan roda dua yang kami tumpangi tak cukup untuk mengangkut semua orang menuju Tasik, maka kami putuskan untuk sekedar berlari pagi di kawasan Situ Leutik, Banjar.
Adik saya dan istrinya berangkat terlebih dahulu menuju lokasi. Tak berapa lama, kami yang tersisa pun menuju lokasi yang sama, meski tak bisa membarengi adik saya yang telah lebih dahulu berangkat.

Sampai di lokasi, rupanya kami yang belakangan baru sadar bahwa adik saya yang berangkat lebih dulu tak terlihat di lokasi. Maka, saya pun dengan penuh kerelaan menawarkan untuk mencarinya dengan berlari mengelilingi Situ Leutik, dengan harapan dapat menemuinya di sisi yang lain.

Saya pun berlari denga semangat, tanpa tahu-menahu jarak trek lari yang mengelilingi Situ Leutik itu. Akibat langsung berlari tanpa pemanasan, tak butuh waktu lama untuk nafas saya terasa berat dan tersengal-sengal. Selain itu, di sisi yang lain pun saya masih tak dapat menemukan adik saya. Saya tetap lanjutkan berlari, hingga akhirnya menyelesaikan satu putaran lari di Situ Leutik. Saya benar-benar terkena batunya, sebab setelah satu putaran itu pun saya masih belum dapat menemukan adik saya.

Badan saya yang kelelahan langsung terasa sakit di beberapa titik. Seusai lari, saya segera memohon pada istri saya agar ia bersedia meminjamkan tenaganya untuk memijat saya sekembalinya kami ke rumah.

Jalan Raya Ciawi 03/09/17 12.51 WIB

Deodoran dan Sabun Anti Acne

Sambil menunggu hujan rintik-rintik berhenti, saya tanya kembali istri saya tentang rencana malam ini untuk membayar tagihan bulanan paket internet dan televisi berbayar langganan kita.

“Jadi!” tukasnya.

“Sekalian aku juga mau beli deodoran. Punyaku sudah habis,” tambahnya.

Jawaban dia langsung mengingatkan saya tentang barang yang telah lama saya pakai sejak masa remaja. Barang itu adalah deodoran. Barang yang bila tutupnya dibuka akan langsung memperlihatkan bentuk sebenarnya yang gundul dan basah – lengkap dengan sensasi dinginnya itu – memang sudah jadi peranti andalan untuk membantu kepercayaan diri saya.

Bahkan, saking lamanya mempengaruhi pikiran saya, sampai sekarang saya jadi merasa kurang nyaman dengan bau badan. Baik itu milik saya, apalagi milik orang lain. Bisa dibilang, saya ini seolah sudah terasingkan dengan bau khas makhluk Tuhan bernama manusia bila mengeluarkan keringat berlebih.

Selain itu, ada barang lain yang juga termasuk dalam daftar belanja saya sejak remaja. Sabun Anti Acne namanya. Sebagai remaja, saya juga menelan mentah-mentah iklan televisi yang jutaan kali berkampanye soal buruknya wajah manusia bila berjerawat, atau hanya sekedar terkena debu. Saking rendahnya kepercayaan diri saya, sampai-sampai saya pernah repot mencoba-coba krim anti jerawat sebagai senjata tambahan untuk menumpas “material jahat” bernama jerawat. Dari sekian banyak produk yang sudah saya coba, tak pernah ada satu pun yang berhasil mencegah jerawat tumbuh subur di permukaan wajah, leher bahkan hingga punggung saya. Jadi, semua iklan tadi bisa dipastikan menipu.

Meski begitu, tetap saja hingga kini saya masih tetap setia dengan kedua jenis produk itu. Seringnya sih karena saya lupa betapa sia-sianya menggunakan semua produk itu. Ini benar-benar jenis amnesia yang paling parah sepertinya.

 

Pondok Benda, 29/08/17 19.18 WIB

Nama Tengah Yang Terlupakan

Seperti para orang tua lainnya, kami pun mempersiapkan nama yang baik untuk calon buah hati kami. Memang bermacam-macam cara pemberian nama. Ada yang memberi nama anaknya berdasarkan gabungan unsur nama kedua orang tuanya; ada yang berdasarkan bulan kelahiran; ada yang sekedar mengikuti tren; atau ada juga yang menyelipkan harapan dan doa dalam sebuah nama yang disusun.

Berdasarkan pada pengalaman saat pemberian nama anak sulung kami, poin terakhir-lah yang menjadi pilihan saya dan istri saat menamai anak kami. Sebuah nama ialah pemberian pertama dari orang tua atas anaknya yang akan melekat terus sepanjang hayatnya. Jadi tentu saja cukup sakral.

Saya dan istri kini tengah menunggu kelahiran anak kami yang kedua, insya Allah dalam tiga bulan ke depan. Seperti pengalaman pada anak pertama, kini kami pun telah menyiapkan susunan nama dari jauh-jauh hari. Dalam hal ini, sepertinya kali ini saya yang lebih bersemangat.

Tapi ada satu masalah, saya sebenarnya telah menyiapkan dua nama — untuk bayi laki-laki maupun perempuan — namun kini saya lupa salah satu nama tengahnya. Lagi-lagi kebiasaan buruk itu kembali membuat masalah.

Sekitar dua bulan yang lalu, saya sudah menyelesaikan dua susunan nama itu. Tapi, beberapa hari yang lalu, setelah saya sempat berpikir untuk menuliskannya di blog ini, ternyata saya baru sadar kalau saya sudah melupakan satu nama tengahnya. Jadilah sudah tiga hari terakhir ini saya tak berhenti mengingat-ingat nama tengah yang terlupakan itu.

Nama untuk bayi perempuan sudah tak perlu dirisaukan. Saya sudah mengingatnya dengan baik. Nama itu ialah Aozora Birru Itsna. Ini masih rencana tentu saja, tapi saya rasa sudah cukup bagus. Kendati memang kemarin istri saya — demi mengobati kebingungan saya yang lagi-lagi “amnesia” — sempat memberi beberapa alternatif susunan nama baru.

Ia sempat mengusulkan tiga nama baru untuk anak perempuan — yang hanya merubah nama akhirnya saja. Inilah nama-nama usulannya: Aozora Birru Samiya, Aozora Birru Fauziah, dan Aozora Birru Raesha.

Tetap saja nama-nama baru ini tak bisa mengobati kebingungan saya karena telah melupakan sebuah nama tengah. Sebabnya ialah, nama tengah yang saya lupakan itu justru untuk nama anak laki-laki.

Jadi, inilah nama bayi laki-laki yang sempat saya susun, namun kini saya lupa nama tengahnya: Eiji [nama tengah] Sutisna.

Seingat saya, nama anak laki-laki yang sudah saya susun seharusnya cukup indah. Apalagi saya menambahkan nama almarhum kakek saya, Sutisna, sebagai nama belakangnya.

Kini saya benar-benar kehilangan ide untuk mengembalikan ingatan saya tentang nama tengah itu. Semoga belum terlambat untuk mengingatnya, bila saja ternyata nanti anak kedua kami ternyata seorang laki-laki.

Pondok Benda, 14/08/17 07.03 WIB

Sampai Tiga Puluh

Menurutnya, saya sudah ia kenal sekitar dua belas tahun yang lalu. Saya coba mengingat masa itu, sekitar tahun 2005.

Ia tak seperti gadis lainnya. Tak hanya berbeda, namun juga unik. Gaya bicara ceplas ceplos, tomboy, supel, murah senyum, dan suka memainkan senar gitar. Namun ada hal lainnya yang ia sembunyikan, dan hanya ia ungkapkan kepada orang tertentu saja.

Ia pernah bilang, bahwa ia ingin meninggal di usia muda. Ia ingin meninggal sebelum berusia 30 tahun.

Saya yang saat itu baru sampai pada tahap penjajakan pun kebingungan dengan ucapannya itu. Bingung bagaimana saya harus menanggapi ‘keinginan’ seperti itu. Tapi, terbersit dalam hati kecil saya, tentunya saya sudah termasuk bukan sembarang orang di matanya.

Waktu berlalu, kini gadis itu telah menjadi pendamping hidup saya sejak tahun 2011. Istri saya pada hari ini tepat berusia 30 tahun. Bahkan, kini tengah berbadan dua untuk kedua kalinya, yang insya Allah akan melengkapi perjalanan biduk rumah tangga kami.

Saya benar-benar bersyukur kepada Allah SWT, sebab dengan kasih sayangnya hingga kini istri saya masih sehat wal afiat mendampingi hidup saya. Rupanya Yang Maha Kuasa masih mentakdirkan ia hadir di tengah kehidupan saya dan anak-anak. Semoga kekasih hati selalu sehat dan tetap mendapat limpahan berkah dari Allah SWT di sisa usianya. Amin.

Selamat milad istriku….

Bintaro Sektor 7, 11/08/17 16.04 WIB